Rabu, 30 Januari 2013

Target Inflansi BoJ Diragukan, Tokyo Dituduh Penyebab Timbulnya Perang Mata Uang


Dari Tokyo dilaporkan, Gubernur Bank Sentral Jepang (Bank of Japan), Masaaki Shirakawa mengemukakan, pihaknya berusaha memenuhi target inflasi dua persen yang ditetapkan pemerintah. Namun, banyak pihak yang meragukan hal itu sulit dicapai kecuali jika negara melakukan reformasi ekonomi.

"Untuk BoJ 'stabilitas harga', berarti wilayah positif antara dua persen (inflasi) dan nol. Saat ini bank akan mencari satu persen. Ini mengambil upaya radikal pemerintah, bank sentral dan sektor swasta untuk mencapai target inflasi dua persen," ujar Shirakawa, demikian di laporan Jumat (25/1/2013) kemarin

Ketegangan telah berjalan tinggi antara pembuat kebijakan BoJ dan Perdana Menteri Shinzo Abe, 58, yang mengisyaratkan akan mengganti Shirakawa, yang masa jabatannya akan berakhir pada April mendatang. Abe juga mengancam akan mengubah undang-undang mandat independensi bank jika tidak jatuh dalam garis yang ditetapkan.

Beberapa ekonom dan analis telah menunjuk reformasi struktural ekonomi sebagai kunci dalam memecah kesengsaraan Jepang, dan meragukan kemungkinan mencapai target inflasi saat ekonomi terbesar ketiga di dunia itu terjebak dalam deflasi selama bertahun-tahun.

"Saya akan mengatakan setengah dari pelaku pasar benar-benar percaya target dua persen inflasi akan tercapai," kata Tsuyoshi Ueno, seorang ekonom senior di Perpusnas Research Institute Tokyo.

Sementara , Kanselir Jerman Angela Merkel melancarkan serangan  dalam perdebatan yang sedang berkembang tentang perang mata uang Kamis (Jum’at, WIB), dengan menuding Jepang sebagai sumber keprihatinan menyusul langkah yang diambil bank sentral negara sakura itu baru-baru ini untuk mempercepat pencetakan uang, dan miliarder George Soros memperingatkan tentang "perang mata uang" dimaksud karena perbedaan cara penanganan defisit nasional masing-masing.

Gubernur bank sentral di negara-negara maju, terutama Jepang dan Amerika Serikat, sudah mengusahakan langkah agresif untuk memulihkan perekonomian mereka.

Ini berdampak melemahkan mata uang mereka. "Saya benar-benar bukan tak khawatir dalam mengamati Jepang," kata Merkel di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, ketika ditanya apakah manipulasi mata uang berisiko mengubah persaingan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar